Kenyataan Virtualisasi dan Cloud Belum Sesuai Harapan


Yunanto Wiji Utomo | Robert Adhi Kusumaputra | Jumat, 24 Juni 2011 | 07:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Virtualisasi dan Cloud Computing jadi tema hangat dalam teknologi informasi. Dalam banyak hal, dijanjikan bahwa penerapan keduanya bisa menurunkan cost IT, memberikan kemudahan bagi perusahaan dalam urusan IT serta membuat perusahaan mampu fokus pada bisnis utamanya. Namun, fakta menunjukkan bahwa masih ada gap antara harapan dan kenyataan implementasi virtualisasi dan cloud computing. Setidaknya, inilah kenyataan di Indonesia yang ditemukan dalam survey Symantec pada 3700 global enterprise, termasuk 100 enterprise Indonesia.

Regional Technical Director for System Engineering Symantec, Raymon Goh, dalam konferensi pers di Hyatt Hotel Jakarta hari ini (23/6/11) mengatakan, “Implementasi private storage as a service adalah yang paling kurang matang. Ini bisa dilihat dari gap antara ekspekstasi dan realitasnya.

Sejumlah 81 persen perusahaan berpikir tentang implementasi private storage as a service, tapi hanya 28 persen yang merasa kenyataannya sesuai harapan. 100 persen dari perusahaan yang disurvei berharap adamya pengurangan kompleksita, tapi cuma 53 persen yang merasa penerapan private storage as a service memenuhi harapan. Storage virtualization juga menghadapi tantangan. Gap terbesar dalam hal ini adalah pada agility, scalability dan kemampuan mengikuti tren perkembangan teknologi. Dalam soal scability, hanya 45 persen dari 100 persenenterprise yang mengharapkan menemukan bahwa implementasi storage virtualization sesuai kenyataan. Implementasi hybrid/private cloud computing juga menghadapi gap. Diantara enterprise yang berharap bahwa implementasi hal tersebut akan mengurangi capital expenditure, hanya 46% persen yang merasakannya.

Gap juga muncul dalam hal scalability (54 persen) dan cost komputasi (46 persen). Beberapa sisi yang cukup matang ialah pada virtualisasi dekstop dan server. Rata-rata gap pada virtualisasi dekstop adalah 0 persen meski masih ada kekecewaan pada penyediaan aplikasi. Sementara, kesenjangan dalam virtualisasi server hanya sebesar 6 persen walau masih ada masalah dalam scalability dan agility. Di luar soal gap, survey Symantec juga menemukan fakta lain. Enterprise saat ini mulai fokus dengan aplikasi-aplikasi business critical.

Sebanyak 63 persen perusahaan berencana untuk memvirtualisasikan aplikasi-aplikasi database dalam 12 bulan mendatang. Tapi, perusahaan lebih lambat dalam memanfaatkan teknologi hybrid/private cloud untuk aplikasi business critical. Survei Symantec juga menemukan bahwa kualitas layanan menjadi perhatian bagi perusahaan yang menerapkan virtualisasi dan cloud computing. Symantec juga menemukan bahwa eksekutif IT dan bisnis tidak sejalan.

Level CFO dan CEO kurang terbuka dalam memindahkan aplikasi business critical di hybrid/private cloud karena soal keamanan dan kontrol. Berdasarkan kenyataan tersebut, Symantec memberikan rekomendasi. Raymon mengatakan, “IT dan bisnis harus sejalan dalam upaya virtualisasi dan komputasi awan. Kemudian, jangan bekerja di lingkungan silo (terisolasi) karena ini tidak akan memberikan keuntungan. Jadi harus komprehensif.” Raymon menambahkan bahwa langkah bisa dimulai dengan menggunakan infrastruktur yang sudah ada dan melakukan modernisasi yang diperlukan. Terakhir, ia mengungkapkan, “Kita juga harus menetapkan ekspektasi yang realistis, kemudian baru melihat hasilnya.” Menurutnya, bagaimanapun virtualisasi dan cloud masih dalam tahap pendewasaan.

Sumber:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: