Barak Serdadu Cyber di Estonia


Dikutip dari VIVAnews, JUM’AT, 18 NOVEMBER 2011, 23:30 WIB | Indra Darmawan

Estonia pernah diserang Rusia lewat perang cyber. NATO pun membangun barak di sana.

VIVAnews – Kota itu senyap dalam perang. Tak ada puing-puing, atau asap mesiu. Tak satu pun rudal melintas, atau peluru berhamburan. Tapi Talinn, ibukota Estonia itu, kalang kabut dihajar serangan “bom” musuh.Semburan trafik data raksasa menyerang infrastruktur Internet negeri itu.

Hari itu akan terus dikenang sebagai hari buruk bagi Estonia di abad digital. Kamis 10 Mei 2007, bank terbesar Estonia, Hansabank, terpaksa menutup layanan online-nya lebih dari sejam. Serangan siber (cyber) itu telah melumpuhkan jaringan keuangan.

Alhasil, ribuan nasabah Hansabank tak bisa mengakses layanan online. Kerugian diderita Hansabank mencapai US$ 1 juta, atau sekitar Rp 8,5 miliar. Tim tanggap darurat keamanan komputer Estonia telah mengantisipasi serangan ini sejak sehari sebelumnya. Tapi, usaha itu sia-sia.

Serangan datang dari Rusia. Bekas pusat imperium Uni Soviet itu, sedang memperingati hari kemenangan pasukan merah terhadap Nazi pada 9 Mei. Dari Rusia, serangan trafik internet meluncur ribuan kali lipat dari kapasitas biasa.

Lembaga pemantau trafik mencatat, salah satu dari 10 jaringan internet Estonia yang diserang hacker Rusia, kebanjiran trafik data sebesar 90 megabit per detik selama satu jam. Trafik sebesar itu sama saja dengan mengunduh sistem operasi Windows XP tiap enam detik sekali.

Tak hanya situs web bank besar Estonia menjadi sasaran. Situs resmi pemerintahan seperti situs presiden, perdana menteri, parlemen, partai politik, perusahaan, juga situs berita, diserang tanpa jeda.

“Ini menjadi sebuah situasi keamanan nasional,” ujar Menteri Pertahanan Estonia saat itu, Jaak Aaviksoo, kepada New York Times. Perang siber antara Rusia dan Estonia itu dilihat banyak pakar sebagai perang siber pertama dengan efek dan kerugian terburuk.

Ulah Rusia

Perang itu dipicu sengketa dan konflik politik di dunia nyata. Estonia yang belum lama merdeka dari Uni Soviet, ingin melepaskan diri dari segala atribut Soviet. Mereka berencana memindahkan patung perunggu tentara Soviet dari pusat kota Talinn.

Hal itu ditentang banyak warga Estonia keturunan Rusia. Mereka protes di jalan-jalan, dan lalu berujung rusuh. Pemerintah Rusia pun berang. Konflik itu pun tak bisa dihindari, berlanjut ke dunia maya.

Kendati Rusia tak pernah mengakuinya, namun rakyat Estonia tak pernah ragu Rusia adalah negara di balik serangan siber itu. “Serangan siber ini jelas-jelas dari Rusia. Tidak diragukan lagi. Ini adalah politis,” kata Merit Kopli, editor Postimees, salah satu dari dua koran Estonia, yang situs webnya jadi sasaran serangan.

Penyerangan itu dikenal dengan distributed denial-of-service (DdoS). Teknik ini membanjiri situs sasaran dengan trafik data. Akibatnya, tak hanya server situs itu mengalami malfungsi. Perangkat router dan switch (perangkat hardware jaringan internet) mereka, juga bisa rusak.

Para penyerang biasanya memperbesar skala serangan trafik itu dengan menginfiltrasi dan menginfeksi ribuan komputer di seluruh dunia. Komputer terinfeksi itu bisa dijadikan sebagai komputer budak (bot atau zombie), yang juga diperalat menyerang komputer target.

Pada kasus Estonia, serangan berjumlah besar ternyata berasal dari Indonesia. Setelah ditelusuri, itu bukan karena hacker Indonesia ikut menyerang Estonia. Rupanya banyak komputer di Indonesia tak memakai sistem operasi resmi. Maka komputer itu mudah dirasuki program jahat (malware), yang lalu memperalatnya ikut menyerang situs-situs di Estonia, tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Tak hanya Indonesia, penyerangan Estonia diperkirakan memanfaatkan sekitar sejuta komputer bot yang telah tertular program jahat. Termasuk dari Vietnam, atau bahkan Amerika Serikat. Untuk memblokir serangan itu, pemerintah Estonia harus menutup sebagian besar jaringan internetnya ke luar negeri.

Akibatnya, warga Estonia yang tengah melancong ke luar negeri tak bisa mengakses rekening banknya, ataupun inbox emailnya hingga beberapa hari. Padahal, Estonia adalah negara dengan infrastruktur internet terbaik kedua setelah Korea Selatan.

Sambungan Internet memang sangat vital bagi warga Estonia. Sehari-harinya, warga Estonia berbelanja lewat ponsel, membayar parker, atau membukukan pajak mereka lewat internet. Bahkan Pemilu pun dilakukan melalui internet.

NATO

Kini, setelah lima tahun serangan itu mendera Estonia, NATO memilih negara itu sebagai pusat pelatihan perang siber bagi negara anggotanya.  Sejak 2008, mereka mendirikan barak militer di Talinn, yang disebut Pusat Pertahanan Siber (CCD COE). Para serdadunya adalah ahli komputer dilatih khusus mengamankan jaringan internet dari serangan.

“Jangan berharap ada komputer dengan tampilan 3D,”  kata seorang pelatih di barak itu kepada wartawan yang berkunjung ke sana Juni lalu, seperti dikutip EUobserver.com. Ruang itu penuh komputer, ada satu proyektor menampilkan lajur-lajur panjang kode digital.

Di barak serdadu itu, ada 30 ahli dari Jerman, Estonia, Spanyol, Hungaria, Italia, Latvia, Lithuania, dan Slovakia. Mereka menggelar seminar dan simulasi, dan menguji semua aspek dari perang siber.

Direktur pusat studi itu, Jenderal Ilmar Tamm mengatakan para pemimpin NATO juga ditawari untuk ikut di pelatihan. “Agar mereka lebih paham jenis informasi apa yang mereka harus tahu untuk menilai kerawanan sebuah serangan”, ujarnya.

Dia mengatakan, pengalaman Estonia pada 2007 itu, belum seberapa dibandingkan jika serangan itu berupa virus komputer yang mampu mengubah formula kimia dari instalasi penjernihan air. Atau, yang bisa merusak kestabilan instalasi nuklir.

Pengintaian terhadap negara asing dan industri juga meningkat.  Terutama dalam kasus serangan berasal dari China, negara yang dituding Tamm “mengumpulkan teknologi informasi, dan menggunakannya bagi kepentingan dan keuntungan mereka sendiri”.

Di Estonia, genderang perang itu sepertinya sudah lama ditabuh.(np)

• VIVAnews

Sumber:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: